RSJ PROF. DR. SOEROJO MAGELANG: KETIKA ODGJ MEMBANGUN RUMAHNYA SENDIRI
Kekaguman
ini membawa saya untuk menelusuri sejarah bangunan rumah sakit tersebut, hingga
akhirnya ditemukanlah suatu fakta yang mengejutkan, antara kasian dan sedikit
kocak. Baiklah, langsung saja mari kita bahas sejarahnya!
Pada
tahun 1916, Scholtens, seorang dokter Belanda berencana membangun
“Krankzinningengesticht” alias rumah sakit jiwa di Jawa Tengah dengan kapasitas
1400 tempat tidur, Setelah melewati banyak rintangan sebelum rencana tersebut
dapat direalisasikan, akhirnya pembangunan dapat dilaksanakan dengan Magelang
sebagai lokasi yang terpilih. Dipilihnya Magelang sebagai lokasi dari rumah
sakit ini bukan alasan. Dapat kita lihat rumah sakit yang berada di, tepi jalan
yang menghubungkan kota Yogyakarta, Semarang dan Purworejo ini dikelilingi oleh
Gunung-gunung Merapi, Merbabu, Andong dan Telomoyo disebelah timur, Ungaran di
sebelah utara, Sumbing serta Menoreh disebelah barat dan bukit Tidar (“Pakunya
pulau Jawa”) disebelah selatan.
Disinilah
salah satu letak keunikannya, tidak seperti bangunan pada umumnya yang baru
ditempati saat bangunan sudah jadi seratus persen, rumah sakit jiwa ini justru
memilih untuk langsung menggunakan setiap bangsal yang selesai dibangun. Hal
ini disebabkan oleh pasien yang tidak henti-hentinya berdatangan dari berbagai
daerah. Bahkan ada yang dikirim dari Rumah sakit jiwa Lawang dan Bogor, padahal
keduanya sudah didirikan jauh sebelumnya. Dari sini bias kita bayangkan betapa
gawatnya kondisi kesehatan jiwa masyarakat pada saat itu. Apa yang penyebabnya,
menjadi sesuatu yang patut dipertanyakan karena tentunya kondisi lingkungan
zaman sekarang tentunya berbeda dengan zaman sekarang. Baik, mari kita balik ke
pembahasan awal. Menurut rencana, seluruh bangunan rumah sakit ditargetkan
rampung pertengahan tahun 1923. Untuk mencapai target tersebut terbitlah sebuah
rencana gila, para pasien dikerahkan, termasuk mereka yang masih cukup
berbahaya dan mengalami gangguan jiwa yang parah. Mereka dikerahkan untuk
pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian khusus seperti menggali tanah, dan
mengangkut batu secara estafet dari kali progo yang berjarak 4 km. Dalam hal
ini yang diutamakan adalah pembangunan bangsal dan jalan, hal lain seperti
kebun kopi, sawah, dan sebagainya menyusul kemudian. (Iya betul, sawah dan
kebun kopi, saya sebagai seorang yang awam tentang RSJ baru tahu tentang ini,
dan ternyata fasilitas tersebut digunakan sebagai bagian dari terapi pasien).
Pembangun bangsal sengaja dibangun dengan model terpencar-pencar untuk keluasan
gerak bagi penghuni nya. Rancangan tersebut pada waktu itu sudah termasuk amat
modern karena mempertimbangkan berbagai hal yang mendukung kesembuhan para
pasien. Kegiatan Sebagai kuli bagi para pasien tadi merupakan salah satu bagian
dari terapi kerja masal untuk pasien (bagian ini yang paling mengejutkan saya)
Namun disamping terapi kerja masal pasien juga membutuhkan terapi kerja
individu, yang mana terapi jenis ini baru diterapkan setelah pembangunan
dianggap selesai dan fasilitas sudah memadai.
Meskipun
belum sepenuhnya selesai, peresmian segera dilaksanakan oleh Direktur pertama
RSJ Magelang, yaitu Dr. Engelhard pada pertengahan tahun 1923. Jumlah pasien
pada waktu itu sudah lebih dari 1100 orang dan dengan cepat melonjak hingga
menjadi lebih dari 1400 orang. Rumah sakit ini juga sempat dikunjungi oleh
psikiater Jerman ternama, Kraeplin. Dia merupakan pencetus tes kraeplin yang
sering digunakan dalam proses rekrutmen kerja hingga sekarang. Sejalan dengan
pembangunan RSJ, telah dimulai pula program Pendidikan khusus perawat penderita
penyakit jiwa. Kurikulumnya mencakup pendidikan perawat umum ditambah hal-hal
yang menyangkut medis psikologis, psikiatris dan garis besar terapi kerja.
Pendidikan khusu inilah yang menjadi pelopor dari Sekolah Perawatan Kesehatan
(SPK) Magelang yang ada di RSJ Magelang sekarang ini.
Sepanjang
berdirinya, RSJ Magelang telah mengalami berbagai masa-masa sulit dan kejadian
pahit yang memprihatinkan, di antaranya:
(Tahun
1930)
Saat bencana gunung Merapi Meletus beberapa bangsal harus dikosongkan
untuk menampung para korban letusan Merapi. Namun, akibatnya banyak bangunan
dan peralatan yang rusak, bahkan ada juga yang hilang.
(22
April 1942) Semua tenaga kerja warga negara Belanda, termasuk
direkturnya dr. P.J. Stigter, ditahan oleh tentara Jepang sehingga
terjadi kekosongan yang berakibat pada kacaunya pengelolaan Rumah sakit. Harta
benda rumah sakit juga tak luput dari penjarahan pihak Jepang, dari mulai beras
dan kopi di lumbung, gula pasir dari hasil perkebunan tebu, dan ikan dari kolam
Rumah Sakit. Obat-obatan tidak tersedia sebagai gantinya pihak RSJ menggunakan
ramuan tradisional. Bagian yang lebih menyedihkannya lagi para pasien
berpakaian bagor dan kondisi kesehatan mereka sangat memprihatinkan, sehingga
banyak yang meninggal karena Hoengoeroedem (HO).
(Masuknya
tentara pendudukan Inggris-Gurkha-Nica) Pada waktu
proklamasi, dentum kemerdekaan juga menggelora di RSJ magelang, bahkan setiap
tahun terdapat perayaan untuk ini. Tetapi keadaan ini tidak berlangsung lama,
segera saat masuknya tentara pendudukan Inggris-Gurkha-Nica ke Magelang.
Ketegangan menyelimuti seluruh rumah sakit, para pegawai dan penduduk
berjaga-jaga dengan bambu runcing. Rumah Sakit Jiwa Magelang digunakan sebagai
pos PMI cabang Magelang utara, dan mengirimkan obat-obatan dan tenaga kesehatan
pada waktu terjadi pertempuran di Secang dan Ambarawa.
(Tahun
1946-1950) Fungsi Rumah sakit jiwa kota
Magelang masih tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya, dalam tahun-tahun
tersebut beberapa bangsal terutama bagian depan pernah digunakan sebagai markas
TKR, ALRI, tempat penampungan keluarga Kereta Api, dan tempat pengungsian
penduduk sekitar Rumah Sakit.
(Masa
Trikora dan Dwikora) Pada masa ini terjadi penghematan anggaran
belanja, sampai-sampai halaman sekitar bangsal harus ditanami ubi, kacang dan
sebagainya untuk tambahan pangan dan sebagian tanah (kebun kopi) diambil alih
oleh pihak Hankam, sehingga luas areal yang semula 82.975 Ha menjadi 74.138 Ha.
(Repelita)
Dengan
adanya Repelita keadaan RSJ Magelang akhirnya berangsur-angsur membaik, akan
tetapi masih ada beberapa yang belum bisa dikembalikan seperti semula,
misalnya: Perikanan yang sulit dikembalikan lagi karena RSJ Magelang tidak
dapat mencapai aliran irigasi yang memadai. Dari Repelita RSJ Magelang juga
mendapat areal tanah untuk penyediaan air bersih 0,945 Ha. Sebelumnya air
bersih didapatkan dari PDAM Magelang tetapi sejak jaman Jepang Rumah sakit
sudah tidak berjalan lagi.
(Tahun
1993) Atas kebijakan kebijakan pemerintah (dalam hal ini
Departemen Kesehatan) Areal Rumah Sakit Jiwa Magelang pada tahun 1993 berkurang
lagi dari 74.138 Ha sekarang tinggal kurang lebih 40 Ha, Areal tersebut diambil
untuk membangun perumahan yang diperuntukan bagi pegawai Departemen Kesehatan.
Pada
tanggal 20 November 2000 secara resmi nama Rumah Sakit Jiwa Magelang telah
berubah menjadi Rumah Sakit Prof. Dr. Soerojo Magelang berdasarkan Surat
Keputusan Menteri Kesehatan No.1684/MENKES-KESSOS/SK/XI/2000. Perubahan nama
ini dilakukan sebagai upaya upaya menghilangkan stigma masyarakat terhadap RSJ
dimana saat itu Pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan jiwa
masih rendah.
DAFTAR
NAMA DIREKTUR YANG PERNAH MEMIMPIN
RUMAH
SAKIT JIWA MAGELANG
|
NO |
NAMA |
|
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 |
dr.
Engelhard dr.
Tumbelaka dr.
J. C. Van Andel dr.
Prins dr.
Stigter dr.
Soerojo dr.
Wignjobroto dr.
F.K.E. Kluge Prof.
dr. D.P. Tahitoe dr.
Agus Setiawan dr.
Benyamin Laksana Hidayat dr.
H. Nanang A. Parwoto dr.
H. S. Susilo Setyodarmoko, Sp.KJ. dr.
H. Djunaedi Tjakrawerdaja, Sp.KJ dr.
Bella Patria Jaya, Sp.KJ Dr.
dr. Fidiansjah, Sp.KJ., MPH. dr.
Bambang Prabowo, M.Kes. dr.
Endang Widyaswati, M.Kes. dr.
Eniarti, M.Sc., Sp.KJ., MMR. dr.
Rukmono Siswishanto, Sp.OG (K)., M.Kes., MPH |
Setelah
membaca sejarah dari Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soerojo Magelang tadi bagaimana
tanggapan kalian? Terutama bagi kalian yang cukup mengerti tentang dunia per
psikiater. Saya sendiri Sebagai orang awam cukup kaget setelah mengetahui
cerita seperti ini, membayangkan seseorang dengan penyakit jiwa yang parah
bekerja saja rasanya aneh, tetapi memang begitulah kenyataannya. Selain itu
timbul pula sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah saya singgung di awal tadi,
kira-kira di zaman itu apa saja penyebab orang bisa menjadi gila? Apakah sama
seperti zaman sekarang? Atau ada penyebab lainnya yang unik?
Terlepas
dari keunikan tadi, sepanjang sejarah, Rumah sakit ini telah memberikan
kontribusi yang luar biasa baik dari segi medis maupun fasilitas terutama untuk
mendukung perjuangan meraih kemerdekaan. Hingga sekarang rumah sakit ini masih
berfungsi sebagai fasilitas kesehatan bagi Masyarakat.
Daftar Pustaka:
Sejarah Singkat Rumah Sakit Jiwa Magelang.
https://soerojohospital.co.id/storage/dokumen/pengumuman/o7O4w0mJbT6jxqSbyed9ncDnmD9NvZARiGRuRgqC.pdf



Terimkasih, jadi nambah pengetahuan ni
BalasHapustungguin update tan terbarunya ya
Hapuseh maksudnya aku tungguin update tan terbarunyaa
Hapus