RSJ PROF. DR. SOEROJO MAGELANG: KETIKA ODGJ MEMBANGUN RUMAHNYA SENDIRI

Sumber: https://soerojohospital.co.id/Profile

RSJ Dr. Soerojo, atau yang lebih dikenal dengan Rumah sakit jiwa kramat, tentunya bukanlah bangunan yang asing bagi warga Magelang. Setiap kali memasuki kota Magelang, bangunan bergaya indis inilah yang selalu pertama kali menyita perhatian saya. Cat abu-abunya, jendela-jendelanya yang berukuran besar dan lingkungannya yang terlihat asri sungguh memesona. Bangunan bergaya indis memang indah, rasanya selalu ada perasaan hangat yang muncul ketika melihatnya, andai pada zaman itu kehidupan antar etnik seindah perpaduan budaya lokal dan eropa yang tercipta dalam arsitektur bangunan.

Kekaguman ini membawa saya untuk menelusuri sejarah bangunan rumah sakit tersebut, hingga akhirnya ditemukanlah suatu fakta yang mengejutkan, antara kasian dan sedikit kocak. Baiklah, langsung saja mari kita bahas sejarahnya!

Sumber: https://www.facebook.com/permalink.php/?story_fbid=4371370219546539&id=247931668557102&locale=be_BY

Pada tahun 1916, Scholtens, seorang dokter Belanda berencana membangun “Krankzinningengesticht” alias rumah sakit jiwa di Jawa Tengah dengan kapasitas 1400 tempat tidur, Setelah melewati banyak rintangan sebelum rencana tersebut dapat direalisasikan, akhirnya pembangunan dapat dilaksanakan dengan Magelang sebagai lokasi yang terpilih. Dipilihnya Magelang sebagai lokasi dari rumah sakit ini bukan alasan. Dapat kita lihat rumah sakit yang berada di, tepi jalan yang menghubungkan kota Yogyakarta, Semarang dan Purworejo ini dikelilingi oleh Gunung-gunung Merapi, Merbabu, Andong dan Telomoyo disebelah timur, Ungaran di sebelah utara, Sumbing serta Menoreh disebelah barat dan bukit Tidar (“Pakunya pulau Jawa”) disebelah selatan.

Disinilah salah satu letak keunikannya, tidak seperti bangunan pada umumnya yang baru ditempati saat bangunan sudah jadi seratus persen, rumah sakit jiwa ini justru memilih untuk langsung menggunakan setiap bangsal yang selesai dibangun. Hal ini disebabkan oleh pasien yang tidak henti-hentinya berdatangan dari berbagai daerah. Bahkan ada yang dikirim dari Rumah sakit jiwa Lawang dan Bogor, padahal keduanya sudah didirikan jauh sebelumnya. Dari sini bias kita bayangkan betapa gawatnya kondisi kesehatan jiwa masyarakat pada saat itu. Apa yang penyebabnya, menjadi sesuatu yang patut dipertanyakan karena tentunya kondisi lingkungan zaman sekarang tentunya berbeda dengan zaman sekarang. Baik, mari kita balik ke pembahasan awal. Menurut rencana, seluruh bangunan rumah sakit ditargetkan rampung pertengahan tahun 1923. Untuk mencapai target tersebut terbitlah sebuah rencana gila, para pasien dikerahkan, termasuk mereka yang masih cukup berbahaya dan mengalami gangguan jiwa yang parah. Mereka dikerahkan untuk pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian khusus seperti menggali tanah, dan mengangkut batu secara estafet dari kali progo yang berjarak 4 km. Dalam hal ini yang diutamakan adalah pembangunan bangsal dan jalan, hal lain seperti kebun kopi, sawah, dan sebagainya menyusul kemudian. (Iya betul, sawah dan kebun kopi, saya sebagai seorang yang awam tentang RSJ baru tahu tentang ini, dan ternyata fasilitas tersebut digunakan sebagai bagian dari terapi pasien). Pembangun bangsal sengaja dibangun dengan model terpencar-pencar untuk keluasan gerak bagi penghuni nya. Rancangan tersebut pada waktu itu sudah termasuk amat modern karena mempertimbangkan berbagai hal yang mendukung kesembuhan para pasien. Kegiatan Sebagai kuli bagi para pasien tadi merupakan salah satu bagian dari terapi kerja masal untuk pasien (bagian ini yang paling mengejutkan saya) Namun disamping terapi kerja masal pasien juga membutuhkan terapi kerja individu, yang mana terapi jenis ini baru diterapkan setelah pembangunan dianggap selesai dan fasilitas sudah memadai.

Sumber: https://soerojohospital.co.id/Profile

Meskipun belum sepenuhnya selesai, peresmian segera dilaksanakan oleh Direktur pertama RSJ Magelang, yaitu Dr. Engelhard pada pertengahan tahun 1923. Jumlah pasien pada waktu itu sudah lebih dari 1100 orang dan dengan cepat melonjak hingga menjadi lebih dari 1400 orang. Rumah sakit ini juga sempat dikunjungi oleh psikiater Jerman ternama, Kraeplin. Dia merupakan pencetus tes kraeplin yang sering digunakan dalam proses rekrutmen kerja hingga sekarang. Sejalan dengan pembangunan RSJ, telah dimulai pula program Pendidikan khusus perawat penderita penyakit jiwa. Kurikulumnya mencakup pendidikan perawat umum ditambah hal-hal yang menyangkut medis psikologis, psikiatris dan garis besar terapi kerja. Pendidikan khusu inilah yang menjadi pelopor dari Sekolah Perawatan Kesehatan (SPK) Magelang yang ada di RSJ Magelang sekarang ini.

Sepanjang berdirinya, RSJ Magelang telah mengalami berbagai masa-masa sulit dan kejadian pahit yang memprihatinkan, di antaranya:

(Tahun 1930) Saat bencana gunung Merapi Meletus beberapa bangsal harus dikosongkan untuk menampung para korban letusan Merapi. Namun, akibatnya banyak bangunan dan peralatan yang rusak, bahkan ada juga yang hilang.

(22 April 1942) Semua tenaga kerja warga negara Belanda, termasuk direkturnya dr. P.J. Stigter, ditahan oleh tentara Jepang sehingga terjadi kekosongan yang berakibat pada kacaunya pengelolaan Rumah sakit. Harta benda rumah sakit juga tak luput dari penjarahan pihak Jepang, dari mulai beras dan kopi di lumbung, gula pasir dari hasil perkebunan tebu, dan ikan dari kolam Rumah Sakit. Obat-obatan tidak tersedia sebagai gantinya pihak RSJ menggunakan ramuan tradisional. Bagian yang lebih menyedihkannya lagi para pasien berpakaian bagor dan kondisi kesehatan mereka sangat memprihatinkan, sehingga banyak yang meninggal karena Hoengoeroedem (HO).

(Masuknya tentara pendudukan Inggris-Gurkha-Nica) Pada waktu proklamasi, dentum kemerdekaan juga menggelora di RSJ magelang, bahkan setiap tahun terdapat perayaan untuk ini. Tetapi keadaan ini tidak berlangsung lama, segera saat masuknya tentara pendudukan Inggris-Gurkha-Nica ke Magelang. Ketegangan menyelimuti seluruh rumah sakit, para pegawai dan penduduk berjaga-jaga dengan bambu runcing. Rumah Sakit Jiwa Magelang digunakan sebagai pos PMI cabang Magelang utara, dan mengirimkan obat-obatan dan tenaga kesehatan pada waktu terjadi pertempuran di Secang dan Ambarawa.

(Tahun 1946-1950) Fungsi Rumah sakit jiwa kota Magelang masih tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya, dalam tahun-tahun tersebut beberapa bangsal terutama bagian depan pernah digunakan sebagai markas TKR, ALRI, tempat penampungan keluarga Kereta Api, dan tempat pengungsian penduduk sekitar Rumah Sakit.

(Masa Trikora dan Dwikora) Pada masa ini terjadi penghematan anggaran belanja, sampai-sampai halaman sekitar bangsal harus ditanami ubi, kacang dan sebagainya untuk tambahan pangan dan sebagian tanah (kebun kopi) diambil alih oleh pihak Hankam, sehingga luas areal yang semula 82.975 Ha menjadi 74.138 Ha.

(Repelita) Dengan adanya Repelita keadaan RSJ Magelang akhirnya berangsur-angsur membaik, akan tetapi masih ada beberapa yang belum bisa dikembalikan seperti semula, misalnya: Perikanan yang sulit dikembalikan lagi karena RSJ Magelang tidak dapat mencapai aliran irigasi yang memadai. Dari Repelita RSJ Magelang juga mendapat areal tanah untuk penyediaan air bersih 0,945 Ha. Sebelumnya air bersih didapatkan dari PDAM Magelang tetapi sejak jaman Jepang Rumah sakit sudah tidak berjalan lagi.

(Tahun 1993) Atas kebijakan kebijakan pemerintah (dalam hal ini Departemen Kesehatan) Areal Rumah Sakit Jiwa Magelang pada tahun 1993 berkurang lagi dari 74.138 Ha sekarang tinggal kurang lebih 40 Ha, Areal tersebut diambil untuk membangun perumahan yang diperuntukan bagi pegawai Departemen Kesehatan.

Pada tanggal 20 November 2000 secara resmi nama Rumah Sakit Jiwa Magelang telah berubah menjadi Rumah Sakit Prof. Dr. Soerojo Magelang berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.1684/MENKES-KESSOS/SK/XI/2000. Perubahan nama ini dilakukan sebagai upaya upaya menghilangkan stigma masyarakat terhadap RSJ dimana saat itu Pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan jiwa masih rendah.

 

DAFTAR NAMA DIREKTUR YANG PERNAH MEMIMPIN

RUMAH SAKIT JIWA MAGELANG

NO

NAMA

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

dr. Engelhard

dr. Tumbelaka

dr. J. C. Van Andel

dr. Prins

dr. Stigter

dr. Soerojo

dr. Wignjobroto

dr. F.K.E. Kluge

Prof. dr. D.P. Tahitoe

dr. Agus Setiawan

dr. Benyamin Laksana Hidayat

dr. H. Nanang  A. Parwoto

dr. H. S. Susilo Setyodarmoko, Sp.KJ.

dr. H. Djunaedi Tjakrawerdaja, Sp.KJ

dr. Bella Patria Jaya, Sp.KJ

Dr. dr. Fidiansjah, Sp.KJ., MPH.

dr. Bambang Prabowo, M.Kes.

dr. Endang Widyaswati, M.Kes.

dr. Eniarti, M.Sc., Sp.KJ., MMR.

dr. Rukmono Siswishanto, Sp.OG (K)., M.Kes., MPH

 

Setelah membaca sejarah dari Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soerojo Magelang tadi bagaimana tanggapan kalian? Terutama bagi kalian yang cukup mengerti tentang dunia per psikiater. Saya sendiri Sebagai orang awam cukup kaget setelah mengetahui cerita seperti ini, membayangkan seseorang dengan penyakit jiwa yang parah bekerja saja rasanya aneh, tetapi memang begitulah kenyataannya. Selain itu timbul pula sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah saya singgung di awal tadi, kira-kira di zaman itu apa saja penyebab orang bisa menjadi gila? Apakah sama seperti zaman sekarang? Atau ada penyebab lainnya yang unik?

Terlepas dari keunikan tadi, sepanjang sejarah, Rumah sakit ini telah memberikan kontribusi yang luar biasa baik dari segi medis maupun fasilitas terutama untuk mendukung perjuangan meraih kemerdekaan. Hingga sekarang rumah sakit ini masih berfungsi sebagai fasilitas kesehatan bagi Masyarakat.


 Daftar Pustaka:

Sejarah Singkat Rumah Sakit Jiwa Magelang. https://soerojohospital.co.id/storage/dokumen/pengumuman/o7O4w0mJbT6jxqSbyed9ncDnmD9NvZARiGRuRgqC.pdf


Komentar

  1. Terimkasih, jadi nambah pengetahuan ni

    BalasHapus
    Balasan
    1. tungguin update tan terbarunya ya

      Hapus
    2. eh maksudnya aku tungguin update tan terbarunyaa

      Hapus

Posting Komentar